Ingin mencurahkan perasaan dengan 'nada' dari lagu orang....
Teruntuk dia yang semestinya dekat namun dijauhkan karena sebuah ketidaksempurnaan....
Just enjoy the bursts of my feelings, then...
Real song title: The Day You Went Away
Song by: M2M (Marion Elise Raven & Marit Elisabeth Larsen)
While I wonder, could it be
When I was dreamin' bout you baby you were dreamin' of me
Call me ctazy, call me blind
To still be struggling looks like stupid after all of this mess
I can't see my love due to your father
I know he loves you like I do
I do, you know I really really do
Reff: Well hey, there's much I need to say
Been lonely since the day your dad took you away
That's a;ways true for me there's only you
Missing you since the day your dad took you away
I remember date and time
September twenty eighth saturday six PM on the night
In the doorway, with your cries
Our parent shouting at each other there were tears on your face
I can't let you go, my someone special
Someome I'll never have again I know
You know I really really know
Reff: Well hey, there's much I need to say
Been lonely since the day your dad took you away
That's a;ways true for me there's only you
Missing you since the day your dad took you away
Why could he never know I'd never let you go
How could I carry on your dad took you away
Cpz' I've been missing you so much I have to say
Been lonely since the day your dad took you away
(Written by: Highwaychance 261212)
Kadang curhat, kadang galau, sering tersesat dalam sastra, menolak makan rumput
Selasa, 25 Desember 2012
Selasa, 09 Oktober 2012
A Story of Love In Disguise
Love walks around....cloaked...
Love roaming around my heart freely, yet chained.
Words have lost their abiltiy to describe
Voices have lost their role to send my cries
Yet...love walks around in disguise
Left feelings which unerasable, unreasonable
Love walks around...with no motion...
Love looks like frozen in time, yet warmth my heart
Words was not enough to spare
Voices was not able to share
Yet...love remains here, remains frozen
Left feelings which irreplacable, unregretable
Love’s alone...
Cloaked within the mist of thoughts
Pass through the path of livings,
Against the ocean, break the sun...
Even ignoring the queen of heaven, love comes towards the moon
With only the skies witness
Love alone...
Empowering my faith, return my sense
Pledge a promise to the moon
With the skies covering, no one stand against..
Moon... Heed my pledge!
Love will be no longer alone...
I’ll be waiting with disguised love...waiting for you..
Love roaming around my heart freely, yet chained.
Words have lost their abiltiy to describe
Voices have lost their role to send my cries
Yet...love walks around in disguise
Left feelings which unerasable, unreasonable
Love walks around...with no motion...
Love looks like frozen in time, yet warmth my heart
Words was not enough to spare
Voices was not able to share
Yet...love remains here, remains frozen
Left feelings which irreplacable, unregretable
Love’s alone...
Cloaked within the mist of thoughts
Pass through the path of livings,
Against the ocean, break the sun...
Even ignoring the queen of heaven, love comes towards the moon
With only the skies witness
Love alone...
Empowering my faith, return my sense
Pledge a promise to the moon
With the skies covering, no one stand against..
Moon... Heed my pledge!
Love will be no longer alone...
I’ll be waiting with disguised love...waiting for you..
Minggu, 30 September 2012
Teruntuk Rembulan
Teruntuk rembulan...
Mentari yang mendambamu, sejauh petang dari paginya
Menembus akal budi, hingga bersinar di langit yang sama
Lembaran waktu memutar dunia, menggulir angkasa
Pun, samudera pemilik rembulan, pencipta kerlipnya
Samudera tertuju lenyapkan mentari, padamkan sinarnya
Selamanya...
Hingga bumi tak lagi bermentari, surya meregang nyawa
Teruntuk rembulan...
Cercah mentari tak ada daya taklukkan amuk samudera
Meski mentari dan bulan pernah bersinar bersama
Lembaran waktu menukik harap, datangkan petaka
Pun, mentari kan tetap bercahaya, tanpa laku dan kata
Dalam bisu dan landa rindu nestapa, sinar surya teruntuk bulan
Selamanya...
Hingga bumi tak lagi berputar, mentari tak bernyawa
Teruntuk rembulan...
Kehilangan cercahnya selamanya, atau menjarak dari bulan muda
Pilihan yang jadikan mentari seolah tak ingin bernyala
Bulan dambaannya masih dalam genggam samudera
Lembaran waktu penuhkan bulan, siapkan cerita
Pun, bulan mentari menjarak dalam merindu, dalam dusta samudera
Langit yang menatap, kan satukan keduanya, tak terdua
Selamanya...
Hingga samudera tak lagi meronta, matahari tak bernyawa
Mentari yang mendambamu, sejauh petang dari paginya
Menembus akal budi, hingga bersinar di langit yang sama
Lembaran waktu memutar dunia, menggulir angkasa
Pun, samudera pemilik rembulan, pencipta kerlipnya
Samudera tertuju lenyapkan mentari, padamkan sinarnya
Selamanya...
Hingga bumi tak lagi bermentari, surya meregang nyawa
Teruntuk rembulan...
Cercah mentari tak ada daya taklukkan amuk samudera
Meski mentari dan bulan pernah bersinar bersama
Lembaran waktu menukik harap, datangkan petaka
Pun, mentari kan tetap bercahaya, tanpa laku dan kata
Dalam bisu dan landa rindu nestapa, sinar surya teruntuk bulan
Selamanya...
Hingga bumi tak lagi berputar, mentari tak bernyawa
Teruntuk rembulan...
Kehilangan cercahnya selamanya, atau menjarak dari bulan muda
Pilihan yang jadikan mentari seolah tak ingin bernyala
Bulan dambaannya masih dalam genggam samudera
Lembaran waktu penuhkan bulan, siapkan cerita
Pun, bulan mentari menjarak dalam merindu, dalam dusta samudera
Langit yang menatap, kan satukan keduanya, tak terdua
Selamanya...
Hingga samudera tak lagi meronta, matahari tak bernyawa
Jumat, 18 Mei 2012
Untuk-Mu dan ‘Dirimu’
Pada-Mu Sang Pelukis samudera raya
Aku pasrahkan segala lara dari rasa
Kepada samudera itulah aku berteriak dalam diam
Kepada samudera itulah kuluruhkan luka dalam
Kepadamulah aku mencinta, meski harus meronta
Sang Pelukis tahu, samudera pun mengaku
Untuk kamu ada cintaku , meski perih menikam kalbu
Pada-Mu Sang Penggores khatulistiwa
Aku gemakan segala daya serta upaya
Kepada langit itulah aku mengaduh dalam tangis
Kepada langit itulah kucurahkan pahit manis
Kepadamulah aku menyayang, sekalipun harus meradang
Sang Penggores paham, cakrawala terdiam
Bagi kamu ada sayangku, meski rintang di hadapanku
Pada-Mu wahai Pemahat bumi pertiwi
Aku lantunkan segala doa dan mohonku ini
Kepada bumi inilah aku mengharap sisa asa
Kepada bumi inilah aku hampakan seisi jiwa
Kepadamulah aku merindu, meski berjuta aral menunggu
Pemahat tak buta, bumi pun serupa
Hanya kamu makna rinduku, meski mengalir air mataku
Hanya kamu, bagimu, untukmu...
Kulukiskan cintaku, kugoreskan sayangku, kupahatkan rinduku
Pemberian-Nya semata, Sang Pencipta cinta dan semesta.
Aku pasrahkan segala lara dari rasa
Kepada samudera itulah aku berteriak dalam diam
Kepada samudera itulah kuluruhkan luka dalam
Kepadamulah aku mencinta, meski harus meronta
Sang Pelukis tahu, samudera pun mengaku
Untuk kamu ada cintaku , meski perih menikam kalbu
Pada-Mu Sang Penggores khatulistiwa
Aku gemakan segala daya serta upaya
Kepada langit itulah aku mengaduh dalam tangis
Kepada langit itulah kucurahkan pahit manis
Kepadamulah aku menyayang, sekalipun harus meradang
Sang Penggores paham, cakrawala terdiam
Bagi kamu ada sayangku, meski rintang di hadapanku
Pada-Mu wahai Pemahat bumi pertiwi
Aku lantunkan segala doa dan mohonku ini
Kepada bumi inilah aku mengharap sisa asa
Kepada bumi inilah aku hampakan seisi jiwa
Kepadamulah aku merindu, meski berjuta aral menunggu
Pemahat tak buta, bumi pun serupa
Hanya kamu makna rinduku, meski mengalir air mataku
Hanya kamu, bagimu, untukmu...
Kulukiskan cintaku, kugoreskan sayangku, kupahatkan rinduku
Pemberian-Nya semata, Sang Pencipta cinta dan semesta.
Rabu, 28 Maret 2012
Bukan Aku atau Kamu
Bila dulu aku begitu mengharapmu di balik semu
Maka bukan aku yang wujudkan harapan itu
Bila dulu kamu katakan, ‘yang kau harap itu semu’
Maka bukan kamu yang membekukan ucapmu itu
Tapi Dia dan senyuman-Nya, alasan kita sejalan...
Bila dulu kamu begitu satu dengan sang bisu
Maka bukan aku yang kembalikan untaian katamu
Bila dulu aku tak kian lelah dengan keheninganmu
Maka bukan kamu yang berikan kekukuhan itu
Masih Dia serta kehangatan-Nya, yang tuliskan kisah kita...
Bila kini aku menjadi bagian dari kisahmu
Maka bukan aku yang mengguratkan itu dalam harimu
Bila kini kamu alasan bagi tiap senyum dan tawaku
Maka bukan kamu yang menguntai candaku
Tetap Dia dan pikiran-Nya, yang jadi pelita kita...
Bukan...bukan aku atau kamu...
Cinta-Nya padaku adalah nafas
Yang mengajarkanku...cara mencintaimu...
Maka bukan aku yang wujudkan harapan itu
Bila dulu kamu katakan, ‘yang kau harap itu semu’
Maka bukan kamu yang membekukan ucapmu itu
Tapi Dia dan senyuman-Nya, alasan kita sejalan...
Bila dulu kamu begitu satu dengan sang bisu
Maka bukan aku yang kembalikan untaian katamu
Bila dulu aku tak kian lelah dengan keheninganmu
Maka bukan kamu yang berikan kekukuhan itu
Masih Dia serta kehangatan-Nya, yang tuliskan kisah kita...
Bila kini aku menjadi bagian dari kisahmu
Maka bukan aku yang mengguratkan itu dalam harimu
Bila kini kamu alasan bagi tiap senyum dan tawaku
Maka bukan kamu yang menguntai candaku
Tetap Dia dan pikiran-Nya, yang jadi pelita kita...
Bukan...bukan aku atau kamu...
Cinta-Nya padaku adalah nafas
Yang mengajarkanku...cara mencintaimu...
Minggu, 18 Maret 2012
(Masih) Tentang Kamu....
Kamu yang di sana
Kamu yang ingin saya amnesia
Kamu yang berpura-pura amnesia
Ingin melupakan dan dilupakan
Hanya karena saya angankan kamu
Asal tahu, dari detik itu, hingga kini
Anganku masih tentang kamu
Kamu yang di sana
Kamu yang jadi bulan dalam sastra
Kamu yang juga bulan bagi hati saya
Ingin berjarak dengan matahari
Hanya karena saya puisikan kamu
Biar kamu tahu, dari detik itu, hingga kini
Puisiku masih tentang kamu
Terserah kamu...
Kamu yang ingin saya amnesia
Kamu yang berpura-pura amnesia
Ingin melupakan dan dilupakan
Hanya karena saya angankan kamu
Asal tahu, dari detik itu, hingga kini
Anganku masih tentang kamu
Kamu yang di sana
Kamu yang jadi bulan dalam sastra
Kamu yang juga bulan bagi hati saya
Ingin berjarak dengan matahari
Hanya karena saya puisikan kamu
Biar kamu tahu, dari detik itu, hingga kini
Puisiku masih tentang kamu
Terserah kamu...
LAW PROFILE.... – Mahasiswa Hukum, Gila? Atau Optimis?
Mungkin saya gila...atau idealis?
Pilih saja salah satu , karena kemungkinan besar, orang-orang bakal memasukkan saya dalam satu dari dua kategori ini. Ini bukan soal saya yang kehilangan ingatan atau apa. Ini soal pilihan saya. Tinggal di negara magic nan ajaib yang namanya Indonesia ini memang maiu nggak mau bikin jadi ikut aneh. Negara agraris dimana petani bisa jatuh miskin, negara maritim yang bikn nelayannya makan raskin, negara yang sama dimana pegawai pajak golongan rendah bisa punya rekening miliaran. Gimana nggak aneh. Biangnya? Pemerintahan yang carut marut, politisi yang hedonis, dan...apalagi kalau bukan hukum yang nggak tentu arah.
Kenapa saya gila? Bicara soal hukum, hampir nggak ada orang di negara ajaib ini yang bilang hukum negara ini patut dicontoh. Jauh dari itu, kalo ngomongin hukum, reaksi umum yang muncul biasanya:
“Alaaaah....hukum negara ini mah gampang dibeli.”
“Hukum sini mah yang salah jadi bener, yang bener jadi salah.”
“Hukum? Sarana politik.”
Dan buanyaaaak lagi komentar sarkastis senada yang bisa aja saya tulis di post ini kalo nggak inget tangan saya bisa pegel J Nah, liat kan? Belum jelas? Saya mahasiswa hukum... kalo jadi mahasiswa hukum di Amrik sana, mungkin bangga soalnya di sana ilmu hukum tuh prestise nya tinggi. Di negara adidaya dengan tingkat ekonomi dan teknologi yang menjulang tinggi itu, tentunya hukum juga jadi salah satu prioritas dong. Itulah kenapa di sana pendididkan hukum sangat dihargai.Kadang (malah seringkali) saya begitu iri dengan ‘pamor’ yang didapat anak-anak teknik, atau arsitek,dengan rumus-rumus yang bikin mereka tampak jenius. Atau dengan anak-anak kedokteran yang konon pendidikannya jauh dari kata mudah. (kebanyakan) orangtua begitu bangga kalo anaknya masuk ‘bidang-bidang elit’ macam yang saya sebut di atas tadi. Berbanding kebalik dengan fakultas hukum. Biasanya ortu bilang jurusan hukum itu passing grade nya relatif RENDAH dan masuknya GAMPANG. Mahasiswa ‘sisaan’ yang nggak diterima di jurusan teknik dan sebangsanya itu biasanya memilih buat ‘banting setir’ ke fakultas hukum daripada nggak kuliah samasekali. Well...what the duck..ironis sekali calon-calon penegak hukum.
Boleh aja kalo kamu mau bilang ini ungkapan kekesalan seorang mahasiswa hukum, curhat colongan, curhat curian, atau apalah. Tapi yang jelas nih, saya suma pingin sekedar cerita dan jujur-jujuran aja tentang fakultas saya tercinta ini. Andai masuk fakultas hukum itu dikategorikan gila, maka saya bisa dibilang betah jadi orang gila J ini dia alasannya.
ü Anak Sipil bilang; dua besi yang persis sama, titik didihnya pasti sama.
Kata anak Hukum: dua orang yang sama sama membunuh, hukumannya bisa beda.
*) kalo nggak sengaja, 359 KUHP, kalo sengaja tapi tanpa rencana, 338 KUHP, kalo terencana, 340 KUHP
ü Anak Kedokteran bilang: Dokter salah diagnosa, satu pasien bisa berakhir di kamar mayat
Kalo anak Hukum: Hakim salah memutus, bisa lebih dari satu orang berakhir di tangan regu tembak.
ü Anak Sastra bilang: Bahasa itu sarana buat komunikasi sekaligus bentuk seni.
Menurut anak Hukum: Bahasa itu sarana pengungkapan ide di otak, yang harus disusun secara bener, dan detail. Karena satu cacat di tata bahasa, bisa menyebabkan kegagalan hukum.
ü Anak Filsafat bilang: Korupsi itu segala yang busuk, buruk, demi kepentingan pribadi
Versinya anak Hukum: Korupsi itu merugikan keuangan negara untuk kepentingan diri sendiri atau orang lain. Kalo yang dirugikan bukan keuangan negara, itu bukan korupsi.
ü Anak Sipil bikin jembatan, sebelum ngebangun, mereka harus lihat HUKUM TATA RUANG.
ü Anak Teknik mau bangun pabrik kimia, mereka harus liat peraturan di HUKUM LINGKUNGAN.
ü Anak Ekonomi mau transaksi jual beli mobil, mereka harus bikin perjanjian sesuai HUKUM PERDATA.
ü Anak Sastra mau terbitin buku, mereka harus hati hati supaya nggak terjerat UNDANG-UNDANG HAK CIPTA.
ü Anak Manajemen jadi Direksi perusahaan, mereka harus tau juga HUKUM DAGANG.
Apa yang saya tulis di atas samasekali NGGAK BERMAKSUD MEREMEHKAN ATAU MENYEPELEKAN BIDANG KEILMUAN LAIN, Masing-masing fakultas atau jurusan pasti punya spesialisasi sendiri-sendiri, dan semuanya penting pastinya. Tapi saya cuma mau nunjukkin betapa hukum sekarang udah merambah ke begitu banyak bidang kehidupan. Nggak cuma berhenti di ruang pengadilan aja. Saya bangga jadi anak hukum. Hukum di negeri ini berantakan? Justru hal inilah yang memotivasi saya buat belajar hukum, Bagaimana saya bisa membuat yang nggak karuan ini kelak menjadi baik dan benar, Hukum dibuat untuk kebaikan manusia, itu yang saya percaya. Jadi? Persetan dengan orang-orang yang memandang hukum dengan mata bajak laut alias sebelah mata. I’m proud to keep low profile and law profile Setelah baca ini, menurut anda, apakah saya masih seorang idealis? Atau seorang gila?
*End note: masuk fakultas hukum itu nggak gampang, menjalaninya juga nggak gampang, lulusnya pun jauh dari gampang J
Selasa, 06 Maret 2012
Dare To Survive Around Seoul?
Kamu hobi traveling? Atau...lebih suka diem di rumah dan dengan setia memandangi Kpop idol kesukaan kamu di televisi? Hmm...mungkin kamu lebih senang berburu merchandise dari boyband atau girlband favorit kamu? Dan apakah sempat terbersit dalam pikiran kamu untuk melangkahkan kakimu tanpa ragu di negeri Ginseng? Semua keingintahuan kamu tentang Korea dan sejuta daya tariknya bagi K-Lovers, bisa kamu dapatkan dengan membaca setiap halaman buku Seoulvivor karya Lia Indra Andriana & Tatz ini.
Penulis yang juga pecinta Korea ini kembali dengan menyuguhkan sebuah travelling book yang istimewa, dimana letak keistimewaan buku yang satu ini? Seoulvivor lahir dari pengalaman personal penulisnya saat mencicipi Korea dalam sebuah backpack traveling yang mengasyikkan. Oleh Lia, lantas pengalaman nyata ini dikemas menjadi semacam travelling book yang tentunya menarik bagi para Kpop-ers, backpackers, dan juga pecinta budaya Korea. Pemaparan dan penjelasan yang ada dalam buku ini tidaklah rumit, sederhana, dan menginspirasi pembacanya untuk lebih berani menantang dirinya dalam petualangan yang sulit dilupakan.Berkunjung ke tempat shooting K-Drama terkenal? Memanjakan lidah di restoran milik Kpop Idol beken? Atau berkunjung ke kantor manajemen boyband/girlband favorit dan mengetes keberentunganmu dengan kemungkinan bertemu langsung dengan mereka? Semua yang sebelumnya seolah hanya dapat dibayangkan, kini bisa saja kamu rasakan! Semua cerita dan detail tentang hal-hal menarik ini terangkum apik dalam SeoulVivor. Asyiknya lagi, nggak usah khawatir bakal kebingungan atau kesasar, semua informasi yang kamu butuhin ketika ber-backpacking ria bisa kamu temukan d buku SeoulVivor besutan Lia Indra Andriana ini. Bila dirasa belum cukup, buku ini juga dilengkapi dengan contoh rencana perjalanan untuk 8 hari, serta foto-foto asli yang semuanya disajikan fullcolour.
So.....siapkah kamu berfoto bersama salah satu personil Super Junior, berjalan-jalan di istana bersama Jang Geum, atau mencicipi segarnya es patbingsu khas Korea??
Get yourself ready, coz’ Seoulvivor will bring Korea closer to you!
NB: Credits to Lia Indra Andriana, my favourite novelist, my idol blogger, and my nuna :)
Sabtu, 03 Maret 2012
Kisah Langit
Langit adalah mata, ia diam
Ia pengamat setia dalam diam
Dibalik gemawan ia kisahkan sebuah cerita
Sebuah kisah tentang kerinduan cakrawala
Para penerang semesta raya
Ini tentang bulan, bintang, dan matahari
Ini cerita bulan, sang pucat penerang malam
Lama sudah ia menanti sang mentari...mengharap
Menatapnya sejauh petang dari siang,
Langit bergulir, sang bulan bersama bintang
Cahaya bulan adalah miilik bintang
Bintang bersinar tak peduli
Ini ungkapan bintang, sang kemilau dalam malam
Ia bersinar di sisi rembulan
Hingga petang menjadi fajar...setia
Sampai saat ia harus pergi, meniti langit
Meluncur jauh menguak awan tinggalkan bulan
Tak tersentuh matahari
Ini balada sang matahari penguasa pagi
Ia yang punya kisahnya sendiri, bukan dalam malam
Menerangi dalam bisu, mengharap sang bulan
Tetap setia dalam fatamorgana panasnya sendiri
Bermandi ilusi tentang rembulan di siang hari
Dibayangi mimpi
Cerita langit tak berakhir, hanya terhenti
Mentari yang mengharap bulan
Menjadi bahan gurauan alam semesta
Bulan yang tak bisa tinggalkan bintang
Langit hanya diam, melihat, menunggu
Bintang yang meluncur pasti
Langit menanti, leburnya rembulan dan matahari...
Minggu, 26 Februari 2012
Balibo, Sebuah Pembelajaran. *dibuat untuk tugas matakuliah Pancasila
Secara personal, reaksi awal yang muncul dari penulis adalah kekagetan, Kekagetan ini mucul lebih karena mengetahui realita yang selama ini luput dari perhatian penulis. Penulis menyadari banyaknya pelanggaran pada nilai-nilai Pancasila utamanya di jaman modern ini. Namun peristiwa Balibo menjadi menjadi hal tersendiri yang membuka cakrawala berpikir penulis. Pelanggaran secara sadar terhadap Pancasila terlihat sangat kentara dalam film ini. Menjadi sangat ironis, mengesalkan dan mengherankan katika pelanggaran ini dilakukan oleh orang Indonesia, penganut ideologi itu sendiri. Namun penulis juga berulang kali mengingatkan pada diri sendiri, agar tidak terjerumus pada keberpihakan. Penilaian subjektif ini bisa muncul dari rasa nasionalisme yang tidak pada tempatnya (memihak Indonesia) ataupun dari sentimentalitas berlebihan (memihak Timor Timur). Penulis ingin mengemukakan suatu komentar yang objektif, dan mengambil jarak.
Bila pengalaman ini dibawa pada pemahaman Pancasila, tidak sulit bagi penulis untuk memahami nilai-nilai umum dalam ideologi ini. Nilai-nilai yang secara eksplisit dapat ditemukan pada poros negara Indonesia ini sifatnya tidaklah rumit. Ada nilai Ketuhanan, Kemanusiaan dan Keadaban, Persatuan Bangsa, Permusyawaratan Rakyat dan Keadilan Sosial. Tampak begitu sederhana sekaligus ideal. Hal ini dipandang lumrah, karena ideologi sebuah negara memang harus berupa nilai yang sederhana dan mudah dicerna. Namun, ideologi sebaik apapun tidak akan bermanfaat bagi warga negaranya ketika ia hanya berakhir sebagai sarana politik semata. Contoh konkret hal ini adalah penerapan Pancasila pada jaman Orde Baru. Pancasila masa itu digunakan untuk suatu unifikasi/penyeragaman politis di bawah pemeintahan yang otoriter.
Invasi militer Indonesia terhadap Timor Timur adalah contoh dari kesalahan persepsi dari nilai persatuan yang ada dalam Pancasila. Pemerintahan Orde Baru berpandangan bahwa dengan kemungkinan munculnya ideologi komunis di perbatasan Indonesia dan Timor Timur (yang notabene bukan bekas wilayah jajahan Hindia Belanda), Indonesia melakukan operasi militer dengan tujuan integrasi Timor Timur ke wilayah Nusantara. Agenda yang diketahui publik ada dua; penegakan ideologi Pancasila dengan memberantas Komunisme, dan pelaksanaan sila ketiga tentang Persatuan dengan ‘dekolonisasi’. Apakah benar tidak ada agenda politis di balik usaha integrasi ini? Pemerintah Indonesia masa itu, tidak menyadari bahwa praktek radikal ini dapat berakibat buruk bagi Timor Timur sendiri. Dalam pelaksanaan ‘penyatuan’ inilah justru dilanggar secara jelas, nilai-nilai Pancasila seperti kemanusiaan, keadaban, keadilan, dan permusywaratan. Ironis bukan?
Visi Indonesia untuk mempersatukan Timor Timur dalam satu bangsa, penulis rasa tidaklah sepenuhnya buruk. Namun hal baik sekalipun, bila dilakukan dengan cara yang buruk, samasekali takkann membawa kebaikan bagi pihak manapun. Kunci dari semuanya ada pada komunikasi. Sebagai penutup komentar, penulis hanya ingin mengutip suatu kalimat bijak dari Albert Einstein yang mengatakan “Peace can not be kept by war, it’s by understanding.” ***
(Ditulis oleh: Adrian Dimas Prasetyo – 2010200047, Fakultas Hukum Unpar)
@2012
Langganan:
Postingan (Atom)