Minggu, 18 Maret 2012

LAW PROFILE.... – Mahasiswa Hukum, Gila? Atau Optimis?

Mungkin saya gila...atau idealis?
Pilih saja salah satu , karena kemungkinan besar, orang-orang bakal memasukkan saya dalam satu dari dua kategori ini. Ini bukan soal saya yang kehilangan ingatan atau apa. Ini soal pilihan saya. Tinggal di negara magic nan ajaib yang namanya Indonesia ini memang maiu nggak mau bikin jadi ikut aneh. Negara agraris dimana petani bisa jatuh miskin, negara maritim yang bikn nelayannya makan raskin, negara yang sama dimana pegawai pajak golongan rendah bisa punya rekening miliaran. Gimana nggak aneh. Biangnya? Pemerintahan yang carut marut, politisi yang hedonis, dan...apalagi kalau bukan hukum yang nggak tentu arah.
Kenapa saya gila? Bicara soal hukum, hampir nggak ada orang di negara ajaib ini yang bilang hukum negara ini patut dicontoh. Jauh dari itu, kalo ngomongin hukum, reaksi umum yang muncul biasanya:

“Alaaaah....hukum negara ini mah gampang dibeli.”
“Hukum sini mah yang salah jadi bener, yang bener jadi salah.”
“Hukum? Sarana politik.”

Dan buanyaaaak lagi komentar sarkastis senada yang bisa aja saya tulis di post ini kalo nggak inget tangan saya bisa pegel J Nah, liat kan? Belum jelas? Saya mahasiswa hukum... kalo jadi mahasiswa hukum di Amrik sana, mungkin bangga soalnya di sana ilmu hukum tuh prestise nya tinggi. Di negara adidaya dengan tingkat ekonomi dan teknologi yang menjulang tinggi itu, tentunya hukum juga jadi salah satu prioritas dong. Itulah kenapa di sana pendididkan hukum sangat dihargai.
Kadang (malah seringkali) saya begitu iri dengan ‘pamor’ yang didapat anak-anak teknik, atau arsitek,dengan rumus-rumus yang bikin mereka tampak jenius. Atau dengan anak-anak kedokteran yang konon pendidikannya jauh dari kata mudah. (kebanyakan) orangtua begitu bangga kalo anaknya masuk ‘bidang-bidang elit’ macam yang saya sebut di atas tadi. Berbanding kebalik dengan fakultas hukum. Biasanya ortu bilang jurusan hukum itu passing grade nya relatif RENDAH dan masuknya GAMPANG. Mahasiswa ‘sisaan’ yang nggak diterima di jurusan teknik dan sebangsanya itu biasanya memilih buat ‘banting setir’ ke fakultas hukum daripada nggak kuliah samasekali. Well...what the duck..ironis sekali calon-calon penegak hukum.
Boleh aja kalo kamu mau bilang ini ungkapan kekesalan seorang mahasiswa hukum, curhat colongan, curhat curian, atau apalah. Tapi yang jelas nih, saya suma pingin sekedar cerita dan jujur-jujuran aja tentang fakultas saya tercinta ini. Andai masuk fakultas hukum itu dikategorikan gila, maka saya bisa dibilang betah jadi orang gila J ini dia alasannya.
ü  Anak Sipil bilang; dua besi yang persis sama, titik didihnya pasti sama.
Kata anak Hukum: dua orang yang sama sama membunuh, hukumannya bisa beda.
*) kalo nggak sengaja, 359 KUHP, kalo sengaja tapi tanpa rencana, 338 KUHP, kalo terencana, 340 KUHP

ü  Anak Kedokteran bilang: Dokter salah diagnosa, satu pasien bisa berakhir di kamar mayat
Kalo anak Hukum: Hakim salah memutus, bisa lebih dari satu orang berakhir di tangan regu tembak.

ü  Anak Sastra bilang: Bahasa itu sarana buat komunikasi sekaligus bentuk seni.
Menurut anak Hukum:  Bahasa itu sarana pengungkapan ide di otak, yang harus disusun secara bener, dan detail. Karena satu cacat di tata bahasa, bisa menyebabkan kegagalan hukum.

ü  Anak Filsafat bilang: Korupsi itu segala yang busuk, buruk, demi kepentingan pribadi
Versinya anak Hukum:  Korupsi itu merugikan keuangan negara untuk kepentingan diri sendiri atau orang lain. Kalo yang dirugikan bukan keuangan negara, itu bukan korupsi.

ü  Anak Sipil bikin jembatan, sebelum ngebangun, mereka harus lihat HUKUM TATA RUANG.
ü  Anak Teknik mau bangun pabrik kimia, mereka harus liat peraturan di HUKUM LINGKUNGAN.
ü  Anak Ekonomi mau transaksi jual beli mobil, mereka harus bikin perjanjian sesuai HUKUM PERDATA.
ü  Anak Sastra mau terbitin buku, mereka harus hati hati supaya nggak terjerat UNDANG-UNDANG HAK CIPTA.
ü  Anak Manajemen jadi Direksi perusahaan, mereka harus tau juga HUKUM DAGANG.

Apa yang saya tulis di atas samasekali NGGAK BERMAKSUD MEREMEHKAN ATAU MENYEPELEKAN BIDANG KEILMUAN LAIN, Masing-masing fakultas atau jurusan pasti punya spesialisasi sendiri-sendiri, dan semuanya penting pastinya. Tapi saya cuma mau nunjukkin betapa hukum sekarang udah merambah ke begitu banyak bidang kehidupan. Nggak cuma berhenti di ruang pengadilan aja.  Saya bangga jadi anak hukum. Hukum di negeri ini berantakan? Justru hal inilah yang memotivasi saya buat belajar hukum, Bagaimana saya bisa membuat yang nggak karuan ini kelak menjadi baik dan benar, Hukum dibuat untuk kebaikan manusia, itu yang saya percaya.  Jadi? Persetan dengan orang-orang yang memandang hukum dengan mata bajak laut alias sebelah mata.  I’m proud to keep low profile and law profile  Setelah baca ini, menurut anda, apakah saya masih seorang idealis? Atau seorang gila?

*End note: masuk fakultas hukum itu nggak gampang, menjalaninya juga nggak gampang, lulusnya pun jauh dari gampang J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar