Subuh-subuh begini tiba-tiba jari saya merasa 'tersentuh buat nulis resensi (atau review, atau entah apa namanya itu) tentang sebuah novel, yang sempet saia singgung di postingan awal (dan paling awal) di blog ini. Judulnya boleh dibilang cukup ajaib....Khokkiri.
Desain cover dari novel ini saja sudah menggelitik rasa penasaran kita untuk membacanya, dengan gambar karakter gajah mungil berwarna biru yang menggenggam kamera, mungkin dalam bayangan kita sudah terbersit bahwa Khokkiri adalah novel ringan yang segar dan cenderung kekanakan, (FYI: Dalam bahasa Korea, 'Khokkiri' berarti gajah). Namun, as a wise man said "Don't judge a book by the cover" nampaknya pepatah ini secara denotatif terbukti dalam novel ini.
Dari background cover yang terkesan dark, Lia Indra Andriana -penulis novel ini- mengisyaratkan kepiawaiannya dalam menggarap sebuah novel serius bernuansa Korea. Novel yang penuh dengan kepingan-kepingan kenangan yang secara tak terduga, saling berhubungan dan mengungkap sebuah kenyataan yang tak terbayangkan oleh tiap karakternya, termasuk oleh kita yang membacanya.
Dialah Becca, seorang blogger lugu yang ingin menjadi Khokkiri dan tak melupakan kenangannya.....
Dialah Adriel Jo, fotografer muda Korea, yang menitipkan ungkapan cintanya pada sang Khokkiri....
Dialah Richard, dokter muda berbakat yang amat realistis dalam memandang kehidupan...
Dialah Della, wanita muda cerdas dan percaya diri, yang terbalut dalam kenangan yang tak ia pahami....
Dialah Lucy, pribadi yang memandang dunia seperti adanya, tanpa dipusingkan kenangan di sekelilingnya...
Mereka hidup dalam keseharian masing-masing dan menjalani hidup seperti yang selama ini mereka tahu. Namun bagaimana bila kenangan itu datang, dan membawa mereka untuk menerima kenyataan yang tidak mereka duga dan harapkan? Benarkah Khokkiri akan selalu ingat?
Pertama kali saya membaca novel ini, kesan yang muncul adalah 'berat', and it is hard indeed. Alur cerita, keragaman karakter, serta konflik-konflik yang terjadi di antara tokoh-tokohnya memang tidak dapat dimengerti dengan ringan dan begitu saja. Tapi (ada tapinya nih) berat tentu saja tidak identik dengan membosankan. Justru semakin saya membuka novel yang satu ini, semakin saya terbawa dan terlarut dalam rasa penasaran untuk mengetahui fakta-fakta menarik yang kerap muncul dalam novel bernuansa Korea ini.
Singkatnya, Kak Lia Indra Andriana berhasil dengan mulus mempertahankan rasa penasaran saya dari awal sampai akhir novel ini.
Kalau diibaratkan, membaca Khokkiri itu sama seperti menemukan sebuah puzzle yang belum tertata, untuk kemudian perlahan-lahan menyusun puzzle ini menjadi sebuah rangkaian kenangan yang utuh dengan membaca tiap halamannya. Novel yang bermuara pada sebuah penyakit psikologis yang disebut Dissociative Identity Disorder (D.I.D) ini mungkin memang kurang cocok buat kamu-kamu yang mengharapkan sebuah bacaan ringan yang menghibur di waktu senggang, karena Kak Lia sendiri mencoba mengetengahkan genre Drama Psikologi,
Dan buat kamu yang punya kebiasaan membaca novel bagian awal dan akhirnya saja, maka hampir bisa dipastikan kalau kamu akan berakhir dengan kepala migren akibat bingung, Alur dan kisah dalam novel ini tidak dapat ditebak begitu saja seperti novel-novel remaja kebanyakan, dan disitulah poin terpenting dan paling menarik dari Khokkiri....obviously unpredictable ^_^
So, kalo kamu suka ketegangan, tertarik pada konflik dan romantisme, dan (yang jelas) suka segala hal berbau KOREA, Khokkiri can be the most recommended novel for you...
Happy reading! ^_^
NB: Credits goes to Lia Indra Andriana (writer of Khokkiri, Seoulmate, Dentistory, Marrying Aids, Seoul Cinderella, and much more...#too much to mention)