Aku, penyair berkawan rindu
Saat karibku itu mengoyakkan kalbuku
Rasa kualirkan dalam kepingan kata
Balada matahari, bulan dan cakrawala
Kawanku, sang rindu yang pekat seiring waktu
Kulukis dirimu dalam syair kisahku
Aku, penyair berkawan rindu
Saat ia menghujam benakku
Cinta kutitipkan pada selembar makna
Cerita cinta aku dan dirinya
Sahabatku, sang rindu melekat tak kenal waktu
Kurajut dirimu dalam sajak haru
Kamu, yang jadikan aku nerindu, petang pagi
Saat kau baca lantunan syairku ini
Ingatlah, tak sedetikpun aku terpisah rindu
Ingatlah, tak seorangpun dalam anganku
Hanya kamu membayang, saat aku bersama rindu
Kawanku, jiwa bagi tiap sastraku, untukmu...
Kadang curhat, kadang galau, sering tersesat dalam sastra, menolak makan rumput
Minggu, 20 Januari 2013
Minggu, 06 Januari 2013
Cerita Di Sudut Pagi
Aku hanyalah titik-titik embun
Titik embun yang jatuh di tepian pagi
Memantulkan hangat sang matahari
Kristal-kristal kecil langit tanpa arti
Menghadir di sela kabut, melenyap ditelan fajar
Disana, sekuntum mawar merekah
Merah, memanja kalbu begitu indah
Harum semerbak sirnakan gundah
Hadirkan pesona dalam nuansa pagi
Tatapan siapa yang takkan berseri
Angan sang embun di batas cakrawala
Melayang jauh dalam rona asmara
Sungguh ingin hiasi sang mawar
Menjadi permata bagi mahkotanya
Menitik jatuh segarkan kelopak anggunnya
Berbanding samudera, embun tak bermakna
Kristal kecil langit bukan gelombang perkasa
Ia hanya ingin pantulkan cahaya surya
Tuk sinari indahnya mawar hatinya
Selimuti pujaannya, mawar nan jelita
Hingga langit memanggil embun pulang
Kembali di pelukan awan, menutup asa
Embun tetap merengkuh mawar
Melebur dalam keindahannya, bersamanya...
Langganan:
Postingan (Atom)