Senin, 02 Desember 2013

Kamis Putih di Hari Minggu


‘Kamis Putih’ di Hari Minggu.
(Sekilas tentang pelayanan dalam kehidupan mahasiswa)

Jadi mahasiswa itu penuh warna, kenapa? Waktu aku masih menyandang gelar ‘putih-abu-abu’, rasanya diterima di univesitas yang udah lama jadi impianku itu begitu menyenangkan, begitu membanggakan. Then here I am now, Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (FH Unpar). Sejak hari pertamaku sebagai civitas akademika FH Unpar, perasaan yang begitu lain dari ‘jadi sekedar siswa’ itu udah kerasa banget. Mungkin ada yang bilang kalau jadi mahasiswa itu identik dengan kebebasan, Ya, ada benernya memang, tapi pastinya kebebasan itu nggak dateng begitu saja. Kayak kata orang-orang; with great power, comes great responsibility, hal yang sama agaknya berlaku juga buat kebebasan mahasiswa, hari-hari kuliahku ‘dikawal’ oleh rasa tanggung jawab kepada kedua orangtuaku. Donatur utama yang membiayai setiap jam yang kulewati dalam kelas di bangku kuliah, Nilai-nilai yang kudapat saat kuliah berpengaruh pada tiap sen rupiah yang harus dibayarkan orangtuaku. Semakin bagus Indeks Prestasi ku, semakin sedikit pulalah biaya yang harus dibayarkan orangtuaku. Mungkin hal ini yang membuatku enggan mengambil peran dalam kegiatan organisasi mahasiswa di FH Unpar.
Pluralitas begitu kentara dalam pergaulan di kampusku, ada beraneka macam etnis dan religiusitas yang berbaur menjadi satu. Meski berlabel ‘universitas Katolik’ nyatanya agama nggak menjadi sesuatu yang dipersoalkan. Puji Tuhan, aku yang Katolik ini berkesempatan mendapatkan banyak teman dan sahabat, baik yang seiman maupun tidak. Ini juga salah satu alasan aku merasa cukup. Cukup apa? Cukup merasa sebagai mahasiswa. Belajar di kelas, mengenal teman-teman, tanpa ada minat untuk bergabung dalam organisasi kemahasiswaan, khususnya Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (HMPSIH). Buat saya, menjadi mahasiswa yang ‘kupu-kupu’ alias kuliah-pulang, kuliah-pulang itu sudah cukup. Yes it is, it was...

Tuhan rupanya punya jalan cerita lain, saat aku menginjak semester tujuh, seorang teman mengajakku bergabung dalam kepengurusan HMPSIH, aku sempat ragu, tak terbiasa dengan organisasi kampus –meski di luar kampus, aku bergabung dalam lebih dari satu organisasi- sampai akhirnya kedua orangtuaku memberikan ‘restu’ mereka. Tak pernah terpikir olehku, pengalamanku di HMPSIH kelak akan membawaku menyadari makna sebuah pelayanan. Hari-hari berlalu cepat, berbulan-bulan aku berkecimpung dalam salah satu divisi HMPSIH, aku merasa semua yang kulakukan adalah sebuah bentuk tanggungjawab, pada Fakultas, pada teman yang mengajakku, dan pada rekan-rekan sesama pengurus. Tanggungjawab, ya, tidak kutemukan alasan yang lebih tepat dari tanggungjawab..
 Sampai akhirnya aku dan teman-teman pengurus lainnya mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) di Villa Istana Bunga, Lembang. Mulanya, aku merasa kegiatan ini hanya formalitas semata, tanggungjawab yang harus kujalani sebagai pengurus Himpunan. Namun ada pertanyaan yang dilontarkan seorang pembicara LDK yang mengena di hatiku; “Untuk apa kita semua ada di sini? Untuk apa kita menjadi pengurus himpunan?” Semua pengurus terhenyak, nggak ada yang bisa menjawab secara pasti pertanyaan itu. Kami masing-masing merenungkan ‘arti kehadran’ kami sebagai pengurus HMPSIH dalam hati. Di saat itu pula aku mulai mempertanyakan perasaan ‘cukup’ yang kurasakan sebelum bergabung dalam organisasi, mempertanyakan tanggungjawab yang selalu menjadi faktor utama alasanku menjadi pengurus HMPSIH. Apa perananku sebagai mahasiswa itu cukup? Apa tanggungjawab adalah satu-satunya alasanku untuk berada di sini?

Hari kedua LDK pengurus HMPSIH, di suatu tengah malam yang amat sangat dingin banget di Lembang, aku dan teman-teman dikejutkan oleh ‘acara’ yang amat di luar dugaan. Kalau sesuai rundown acara, maka hari Minggu malam akan kami isi dengan menampilkan kreativitas masing-masing divisi sembari menghangatkan diri di sekeliling api unggun. Namun siapa sangka acara yang penuh tawa itu akan berubah penuh haru.
Ketua himpunan kami, Visensius Manuela, meminta semua pengurus yang hadir untuk berkumpul dan duduk bersama, sementara ia bersama beberapa teman-teman pengurus inti mempersiapkan kursi yang ditempatkan berjejer, dan berbotol-botol besar air mineral. Setidaknya, aku sendiri saat itu nggak punya bayangan akan apa yang akan terjadi setelahnya. Aku hanya terbengong-bengong dan terdiam, sampai Sius –begitu ketua himpunan kami biasa disapa- akhirnya berbicara, aku masih ingat betul apa yang dia bilang; “Kita mungkin nggak bisa melakukan segala sesuatunya dengan sempurna, tapi melakukan sesuatu dengan sepenuh hati itu jauh lebih baik daripada nggak melakukan apa-apa samasekali.”, aku tertegun. Dan seolah itu belum cukup, Sius berbicara lagi, “Buat saya yang seorang Kristiani, Yesus adalah pemimpin besar, Ia tokoh yang begitu berpengaruh. Namun bahkan dengan kepemimpinan-Nya dan kuasa-Nya, Yesus butuh bantuan dua belas rasul buat menyempurnakan karya besar-Nya. Ini bukan soal agama, saya yang hari ini berdiri di depan temen-temen semua, udah dipilih jadi pemimpin, dan saya pun nggak akan bisa begini tanpa dukungan temen-temen. Untuk itu, silakan temen-temen dari masing-masing divisi, maju dan duduk di kursi-kursi ini. Sebelum saya berkomitmen buat memimpin, saya akan terlebih dahulu melayani kalian”
Dan saat itulah aku merasakan yang kini kusebut “Kamis Putih di Hari Minggu”, di penghujung malam itu, ketua himpunan kami melepaskan sepatu kami dengan tangannya dan membasuh kaki kami dengan air, dan dengan tangannya sendiri, Sius membasuh kaki kami. Aku terkaget, shock, nggak mampu berkata-kata, otakku otomatis menangkap ‘adegan’ yang terjadi di depan mataku sebagai apa yang biasa ku lihat pada hari Kamis Putih. Yesus membasuh kaki para murid –Nya, sebagai tanda pelayanan-Nya kepada dunia.
Aku menemukan jawaban semua pertanyaanku di Minggu dini hari itu, untuk apa aku berada di sini? Apakah tanggung jawab saja cukup sebagai alasan aku ‘bekerja’ di organisasi ini? Ternyata bagiku, pelayanan dan keteladanan adalah jawabannya, nggak nyangka bahwa dalam acara mahasiswa, ternyata tersembunyi filosofi yang sedalam itu. Tanggungjawab saja tidak cukup, Tuhan memanggil aku sebagai pengurus himpunan untuk melayani. Melayani semua rekan-rekanku melalui bidang yang kukuasai di kepengurusan. Ini bukan sekedar tanggungjawab. Ini bukan sekedar ‘cukup’. Karena pelayanan itu nggak kenal kata cukup. (ADP –FH Unpar 2010)



Mending Jadi Mahasiswa atau Pengemis?


Mending Jadi Mahasiswa atau Pengemis?
(Sekelumit konflik batin sebagai mahasiswa Katolik)

Aku sih senang-senang saja menjadi mahasiswa jurusan fakultas hukum sekaligus pemeluk iman Katolik, keduanya merupakan identitas yang membanggakan bagiku. Sebagai seorang Katolik, aku dituntut mewartakan kasih dan kebenaran. Sebagai mahasiswa hukum, aku diharuskan mencari dan menegakkan kebenaran. Hmm, keduanya terlihat keren dan sejalan. Ditambah lagi sebagai mahasiswa hukum di universitas Katolik, aku harus dapat melakukan keduanya. Karena ‘sejalan’ nya apa yang aku pelajari di bangku kuliah dan yang aku imani dalam Gereja, aku merasa yakin akan apa yang kelak akan nanti aku lakukan, Toh dua-duanya bertujuan baik, pikirku.
‘Tantangan’ sesungguhnya terjadi saat sebuah isu merebak di kalangan akademisi di kampusku, Sebuah fenomena di mana pemerintah daerah mengeluarkan Peraturan Daerah yang melarang pemberian uang kepada pengemis. Awalnya aku masih belum dapat mencerna maksud dari peraturan ini. Bahkan meski peraturan ini gaungnya sudah terdengar sebelum aku menjadi mahasiswa, tetap saja aku nggak memahami jalan pikiran si pembuat peraturan. Bagaimana memberi pada yang membutuhkan dapat dianggap sebagai pelanggaran hukum? Namun rupanya perkara ini nggak sesederhana itu, ada alasan tersendiri tentang kenapa peraturan ini dirilis. Konon pengemis-pengemis yang menadahkan tangannya demi kepingan-kepingan rupiah itu dapat menghasilkan ratusan ribu rupiah per harinya semata-mata dari hasil mengemis. Wow banget...
Rupanya tujuan moral dan filosofis dari peraturan ini adalah ‘mendidik’ para pengemis agar mau bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Selama ini ternyata banyak pengemis di kota besar yang sudah terlalu ‘nyaman’ dengan ‘profesi’ mereka. Uang dapat mereka peroleh dengan menunggu belas kasihan orang di tepi jalan, dan nyaris tanpa melakukan apa-apa. Pernyataan unik dan berseloroh sesekali terlontar dari dosen atau teman kampusku “Kalo mikir duit, mending jadi pengemis daripada mahasiswa”.
Ini yang membuatku bingung, dalam Injil, Yesus sendiri mengajarkan untuk memberi dengan tulus dan ikhlas tanpa embel-embel. Kalau ketika kita hendak memberi, selalu muncul kebimbangan di hati dan keraguan entah akan memberi atau tidak, lantas kapan kita akan memberi? Haruskah kita menaati peraturan ‘kaisar’ yang baik ini dan berhenti memberi? Atau akankah kita mengabaikan peraturan ini dan tetap memberi seperti kita baca dalam Injil?
Keduanya tujuannya sama-sama baik dan bermanfaat, aku bingung dan sempat galau sendiri. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya pada seorang ‘partner’ brainstorming di gereja, Rm Wilfred Haripahlwan a.ka Romo Willy. Menurut beliau sih, memberi atau tidaknya kita itu tidak ditentukan oleh untuk apa uang pemberian kita nanti Apapun pemberiannya. Memberi kepingan rupiah pada pengemis memang takkan membuat kita miskin, namun Rm. Willy berujar bahwa kegiatan memberi juga butuh peranan hati. Saat hati tulus tergerak untuk memberi, jangan ragu. Namun ada saatnya kita memiliki pertimbangan untuk tidak memberi, karena melihat usaha si peminta-minta. Jangan paksa diri untuk memberi. Kegiatan memberi harus didasari ketulusan. Bila kita ingin membantu sesama, cukuplah motivasinya berhenti di sana, jangan diteruskan ke yang lain-lain. Akhirnya aku memutuskan, dalam situasi ‘terjepit’ ini aku harus bertindak dengan hati dan akal sehat, ada kalanya aku harus mempertimbangkan Peraturan Daerah, namun ada saatnya aku harus memberi tanpa ragu-ragu. At last, mending jadi mahasiswa atau pengemis? Jawabanku; mahasiswa yang tahu kapan harus memberi!  (ADP)


Sebuah Cerita Kita


Kamu...
Dicipta dari apakah kamu, hingga aku begitu rindu?
Debu kah hingga aku ingin menggapai tiap bagian kecil darimu?
Tanah kah sehingga rasa sayangku tumbuh di permukaan hatimu?
Atau...cahayakah? Hingga senyummu menerangi anganku?
Apapun, tetap kau ciptaan terindah-Nya di mataku.

Aku...
Dibentuk dari apakah aku hingga aku inginkanmu?
Dari bungakah aku, yang rindukan wangi ragamu?
Dari awankah aku, yang melebur dalam langit parasmu?
Atau...dari  dedaunan? Hingga tak kuasa aku melayang jauh darimu?
Apapun, aku tetap tiada tanpa hadirmu.

Kita...
Semakin jauh kita, semakin sakit aku...
Laksana bunga dalam debulah perasaanku, saat jarak itu ada
Layaknya awan menghantam tanah, menjadi setetes embun air mata
Seperti daun yang mengering memutih layu, saat kau tak ada
Tak berdaya..tak ber asa..aku tanpa kamu.
Apapun...sejauh apapun..aku tetap ingin..kamu...


(Sahabat) Kamu Selamanya


Kala aku dikarya Sang Esa
Aku hilang tinggal asa bila sendiri semata
Sang Esa Mahatahu maka kamu dicipta
Kamu yang temaniku dalam lara
Kamu yang hidupiku dalam tawa
Sahabat, kamulah pertanda semesta
Bahwa sang Esa berikanku cinta

Lalui kamulah, Sang Langit temani langkah
Dalam kamulah, Sang Langit turunkan berkah
Ia yang Maha Melihat, mewujud dalam sahabat
Karena kamu, aku ingin tetap ada
Karena kamu, aku ingin tetap berkarya
Sahabat, yang nestapa kala ku jatuh
Siap menopang saat ku luruh

Sang Esa tak berikanku kekal
Sang Langit berikanku saat akhir
Namun apa yang mengikat kita,
Adalah untuk selamanya. 




Sabtu, 08 Juni 2013

Take My Heart Along

Take My Heart Along
(Inspired from: ‘Bawalah Cintaku’ by Afgan)

Sempat tak ada lagi kesempatanku untuk bisa bersamamu...

From the beginning, I know you’re my missing piece
And the answer of my existence is to complete yours
Things happened and it made us apart
I tought that I’ve lost my chance to stay

Kini ku tahu bagaimana cara ku untuk dapat terus denganmu...

It felt like I’m missing a half beat of heart
My world taken away, further and further
But now, I know how
I know how to eternally belong to you

Bawalah pergi cintaku ajak kemana kau mau, jadikan temanmu, temanmu paling kau cinta...

Just take my heart along, sweetheart
Along with my love to you, and only you
Bring it wherever you go, as I will follow
Let it stay inside you, to remind you I love you

Disini ku pun begitu, terus cintaimu di hidupku, di dalam hatiku sampai waktu yang pertemukan kita nanti...

And here I am waiting faithfully
My whole life is meant to love you only
As time passes by, I keep it inside my heart
So when the time came, we meet each other

And you’ll know, I’ll always love you.



Senin, 01 April 2013

Denganmu Tentang-Nya

Putih...Kasih Terbesar pasrahkan nyawa bagi kawanan-Nya
Kasih Terbesar menyatakan cinta-Nya dalam sengsara
Guru dan Tuhan menghamba, aku dan kamu mendamba
Kecupan di pipiku, darimu, tanda cinta sederhana
Kecupan di pipi-Nya, semu, tanda khianat domba-Nya
Tiap kupandang tubuh-Nya Mahakudus malam itu.
Ingatku pada-Nya, yang membasuh kakiku dengan cinta
Ingatku padamu, yang membasuh hatiku dengan cinta

Agung...Raja Semesta terhitung antara dosa dunia
Raja semesta menyatakan cinta-Nya di salib hina
Putera Allah esa tersendat, aku kamu kian erat
Genggamanku di jemarimu siratkan sayang
Genggaman maut di raga-Nya tegaskan taat
Tiap kupandang salib-Nya kayu agung malam itu
Ingatku pada-Nya yang menebus segala dosa salahku
Ingatku padamu yang terima semua batas dan kurangku

Suci...Cahaya Dunia terbitkan asa umat manusia
Cahaya Dunia menyatakan cinta-Nya sirna gulita
Adam Baru lambang gempita, aku dan kamu mencinta
Lilinmu serta lilinku bernyala, indahkan kalbuku
Sinar-Nya seta kasih-Nya bernyala, menghalau malamku
Tiap kuingat madah Paska-Nya bergaung malam itu
Ingatku pada-Nya yang terangi hatiku hapus nestapa
Ingatku padamu yang terangi hatiku rona asmara

Kosong...kini kosong kubur Dia Yang Hidup di hari ketiga
Dia Yang Hidup kembali ke sisi Bapa dalam mulia
Putera Manusia bangkit syahdu, aku dan kamu merindu
Senyummu untukku berikan bahagiaku
Senyum-Nya bagiku penuhkan sukacitaku
Tiap kupandang makam-Nya kosong bersih pagi itu
Ingatku pada-Nya yang menebus segala durhakaku
Ingatku padamu, yang kan selamanya ku merindu