Rabu, 28 Maret 2012

Bukan Aku atau Kamu

Bila dulu aku begitu mengharapmu di balik semu
Maka bukan aku yang wujudkan harapan itu
Bila dulu kamu katakan, ‘yang kau harap itu semu’
Maka bukan kamu yang membekukan ucapmu itu
Tapi Dia dan senyuman-Nya, alasan kita sejalan...

Bila dulu kamu begitu satu dengan sang bisu
Maka bukan aku yang kembalikan untaian katamu
Bila dulu aku tak kian lelah dengan keheninganmu
Maka bukan kamu yang berikan kekukuhan itu
Masih Dia serta kehangatan-Nya, yang tuliskan kisah kita...

Bila kini aku menjadi bagian dari kisahmu
Maka bukan aku yang mengguratkan itu dalam harimu
Bila kini kamu alasan bagi tiap senyum dan tawaku
Maka bukan kamu yang menguntai candaku
Tetap Dia dan pikiran-Nya, yang jadi pelita kita...

Bukan...bukan aku atau kamu...
Cinta-Nya padaku adalah nafas
Yang mengajarkanku...cara mencintaimu...

Minggu, 18 Maret 2012

(Masih) Tentang Kamu....

Kamu yang di sana
Kamu yang ingin saya amnesia
Kamu yang berpura-pura amnesia
Ingin melupakan dan dilupakan
Hanya karena saya angankan kamu
Asal tahu, dari detik itu, hingga kini
Anganku masih tentang kamu

Kamu yang di sana
Kamu yang jadi bulan dalam sastra
Kamu yang juga bulan bagi hati saya
Ingin berjarak dengan matahari
Hanya karena saya puisikan kamu
Biar kamu tahu, dari detik itu, hingga kini
Puisiku masih tentang kamu

Terserah kamu...

LAW PROFILE.... – Mahasiswa Hukum, Gila? Atau Optimis?

Mungkin saya gila...atau idealis?
Pilih saja salah satu , karena kemungkinan besar, orang-orang bakal memasukkan saya dalam satu dari dua kategori ini. Ini bukan soal saya yang kehilangan ingatan atau apa. Ini soal pilihan saya. Tinggal di negara magic nan ajaib yang namanya Indonesia ini memang maiu nggak mau bikin jadi ikut aneh. Negara agraris dimana petani bisa jatuh miskin, negara maritim yang bikn nelayannya makan raskin, negara yang sama dimana pegawai pajak golongan rendah bisa punya rekening miliaran. Gimana nggak aneh. Biangnya? Pemerintahan yang carut marut, politisi yang hedonis, dan...apalagi kalau bukan hukum yang nggak tentu arah.
Kenapa saya gila? Bicara soal hukum, hampir nggak ada orang di negara ajaib ini yang bilang hukum negara ini patut dicontoh. Jauh dari itu, kalo ngomongin hukum, reaksi umum yang muncul biasanya:

“Alaaaah....hukum negara ini mah gampang dibeli.”
“Hukum sini mah yang salah jadi bener, yang bener jadi salah.”
“Hukum? Sarana politik.”

Dan buanyaaaak lagi komentar sarkastis senada yang bisa aja saya tulis di post ini kalo nggak inget tangan saya bisa pegel J Nah, liat kan? Belum jelas? Saya mahasiswa hukum... kalo jadi mahasiswa hukum di Amrik sana, mungkin bangga soalnya di sana ilmu hukum tuh prestise nya tinggi. Di negara adidaya dengan tingkat ekonomi dan teknologi yang menjulang tinggi itu, tentunya hukum juga jadi salah satu prioritas dong. Itulah kenapa di sana pendididkan hukum sangat dihargai.
Kadang (malah seringkali) saya begitu iri dengan ‘pamor’ yang didapat anak-anak teknik, atau arsitek,dengan rumus-rumus yang bikin mereka tampak jenius. Atau dengan anak-anak kedokteran yang konon pendidikannya jauh dari kata mudah. (kebanyakan) orangtua begitu bangga kalo anaknya masuk ‘bidang-bidang elit’ macam yang saya sebut di atas tadi. Berbanding kebalik dengan fakultas hukum. Biasanya ortu bilang jurusan hukum itu passing grade nya relatif RENDAH dan masuknya GAMPANG. Mahasiswa ‘sisaan’ yang nggak diterima di jurusan teknik dan sebangsanya itu biasanya memilih buat ‘banting setir’ ke fakultas hukum daripada nggak kuliah samasekali. Well...what the duck..ironis sekali calon-calon penegak hukum.
Boleh aja kalo kamu mau bilang ini ungkapan kekesalan seorang mahasiswa hukum, curhat colongan, curhat curian, atau apalah. Tapi yang jelas nih, saya suma pingin sekedar cerita dan jujur-jujuran aja tentang fakultas saya tercinta ini. Andai masuk fakultas hukum itu dikategorikan gila, maka saya bisa dibilang betah jadi orang gila J ini dia alasannya.
ü  Anak Sipil bilang; dua besi yang persis sama, titik didihnya pasti sama.
Kata anak Hukum: dua orang yang sama sama membunuh, hukumannya bisa beda.
*) kalo nggak sengaja, 359 KUHP, kalo sengaja tapi tanpa rencana, 338 KUHP, kalo terencana, 340 KUHP

ü  Anak Kedokteran bilang: Dokter salah diagnosa, satu pasien bisa berakhir di kamar mayat
Kalo anak Hukum: Hakim salah memutus, bisa lebih dari satu orang berakhir di tangan regu tembak.

ü  Anak Sastra bilang: Bahasa itu sarana buat komunikasi sekaligus bentuk seni.
Menurut anak Hukum:  Bahasa itu sarana pengungkapan ide di otak, yang harus disusun secara bener, dan detail. Karena satu cacat di tata bahasa, bisa menyebabkan kegagalan hukum.

ü  Anak Filsafat bilang: Korupsi itu segala yang busuk, buruk, demi kepentingan pribadi
Versinya anak Hukum:  Korupsi itu merugikan keuangan negara untuk kepentingan diri sendiri atau orang lain. Kalo yang dirugikan bukan keuangan negara, itu bukan korupsi.

ü  Anak Sipil bikin jembatan, sebelum ngebangun, mereka harus lihat HUKUM TATA RUANG.
ü  Anak Teknik mau bangun pabrik kimia, mereka harus liat peraturan di HUKUM LINGKUNGAN.
ü  Anak Ekonomi mau transaksi jual beli mobil, mereka harus bikin perjanjian sesuai HUKUM PERDATA.
ü  Anak Sastra mau terbitin buku, mereka harus hati hati supaya nggak terjerat UNDANG-UNDANG HAK CIPTA.
ü  Anak Manajemen jadi Direksi perusahaan, mereka harus tau juga HUKUM DAGANG.

Apa yang saya tulis di atas samasekali NGGAK BERMAKSUD MEREMEHKAN ATAU MENYEPELEKAN BIDANG KEILMUAN LAIN, Masing-masing fakultas atau jurusan pasti punya spesialisasi sendiri-sendiri, dan semuanya penting pastinya. Tapi saya cuma mau nunjukkin betapa hukum sekarang udah merambah ke begitu banyak bidang kehidupan. Nggak cuma berhenti di ruang pengadilan aja.  Saya bangga jadi anak hukum. Hukum di negeri ini berantakan? Justru hal inilah yang memotivasi saya buat belajar hukum, Bagaimana saya bisa membuat yang nggak karuan ini kelak menjadi baik dan benar, Hukum dibuat untuk kebaikan manusia, itu yang saya percaya.  Jadi? Persetan dengan orang-orang yang memandang hukum dengan mata bajak laut alias sebelah mata.  I’m proud to keep low profile and law profile  Setelah baca ini, menurut anda, apakah saya masih seorang idealis? Atau seorang gila?

*End note: masuk fakultas hukum itu nggak gampang, menjalaninya juga nggak gampang, lulusnya pun jauh dari gampang J


Selasa, 06 Maret 2012

Dare To Survive Around Seoul?

Kamu hobi traveling? Atau...lebih suka diem di rumah dan dengan setia memandangi Kpop idol kesukaan kamu di televisi?  Hmm...mungkin kamu lebih senang berburu merchandise dari boyband atau girlband favorit kamu? Dan  apakah sempat terbersit dalam pikiran kamu untuk melangkahkan kakimu tanpa ragu di negeri Ginseng? Semua keingintahuan kamu tentang Korea dan sejuta daya tariknya bagi K-Lovers, bisa kamu dapatkan dengan membaca setiap halaman buku Seoulvivor karya Lia Indra Andriana & Tatz ini.
Penulis yang juga pecinta Korea ini kembali dengan menyuguhkan sebuah travelling book yang istimewa, dimana letak keistimewaan buku yang satu ini? Seoulvivor lahir dari pengalaman personal penulisnya saat mencicipi Korea dalam sebuah backpack traveling yang mengasyikkan. Oleh Lia, lantas pengalaman nyata ini dikemas menjadi semacam travelling book yang tentunya menarik bagi para Kpop-ers, backpackers, dan juga pecinta budaya Korea. Pemaparan dan penjelasan yang ada dalam buku ini tidaklah rumit, sederhana, dan menginspirasi pembacanya untuk lebih berani menantang dirinya dalam petualangan yang sulit dilupakan.
Berkunjung ke tempat shooting K-Drama terkenal? Memanjakan lidah di restoran milik Kpop Idol beken? Atau berkunjung ke kantor manajemen boyband/girlband favorit dan mengetes keberentunganmu dengan kemungkinan bertemu langsung dengan mereka? Semua yang sebelumnya seolah hanya dapat dibayangkan, kini bisa saja kamu rasakan! Semua cerita dan detail tentang hal-hal menarik ini terangkum apik dalam SeoulVivor. Asyiknya lagi,  nggak usah khawatir bakal kebingungan atau kesasar, semua informasi yang kamu butuhin ketika ber-backpacking ria bisa kamu temukan d buku SeoulVivor besutan Lia Indra Andriana ini. Bila dirasa belum cukup, buku ini juga dilengkapi dengan contoh rencana perjalanan untuk 8 hari, serta foto-foto asli yang semuanya disajikan fullcolour.
So.....siapkah kamu berfoto bersama salah satu personil Super Junior, berjalan-jalan di istana bersama Jang Geum, atau mencicipi segarnya es patbingsu khas Korea??
Get  yourself ready, coz’ Seoulvivor will bring Korea closer to you!

NB: Credits to Lia Indra Andriana, my favourite novelist, my idol blogger, and my nuna :)

Sabtu, 03 Maret 2012

Kisah Langit

Langit adalah mata, ia diam
Ia pengamat setia dalam diam
Dibalik gemawan ia kisahkan sebuah cerita
Sebuah kisah tentang kerinduan cakrawala
Para penerang semesta raya
Ini tentang bulan, bintang, dan matahari

Ini cerita bulan, sang pucat penerang malam
Lama sudah ia menanti sang mentari...mengharap
Menatapnya sejauh petang dari siang,
Langit bergulir, sang bulan bersama bintang
Cahaya bulan adalah miilik bintang
Bintang bersinar tak peduli

Ini ungkapan bintang, sang kemilau dalam malam
Ia bersinar di sisi rembulan
Hingga petang menjadi fajar...setia
Sampai saat ia harus pergi, meniti langit
Meluncur jauh menguak awan tinggalkan bulan
Tak tersentuh matahari

Ini balada sang matahari penguasa pagi
Ia yang punya kisahnya sendiri, bukan dalam malam
Menerangi dalam bisu, mengharap sang bulan
Tetap setia dalam fatamorgana panasnya sendiri
Bermandi ilusi tentang rembulan di siang hari
Dibayangi mimpi

Cerita langit tak berakhir, hanya terhenti
Mentari yang mengharap bulan
Menjadi bahan gurauan alam semesta
Bulan yang tak bisa tinggalkan bintang
Langit hanya diam, melihat, menunggu
Bintang yang meluncur pasti
Langit menanti, leburnya rembulan dan matahari...