‘Kamis Putih’ di Hari Minggu.
(Sekilas tentang pelayanan dalam kehidupan mahasiswa)
Jadi mahasiswa itu penuh warna, kenapa? Waktu aku masih menyandang gelar ‘putih-abu-abu’, rasanya diterima di univesitas yang udah lama jadi impianku itu begitu menyenangkan, begitu membanggakan. Then here I am now, Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (FH Unpar). Sejak hari pertamaku sebagai civitas akademika FH Unpar, perasaan yang begitu lain dari ‘jadi sekedar siswa’ itu udah kerasa banget. Mungkin ada yang bilang kalau jadi mahasiswa itu identik dengan kebebasan, Ya, ada benernya memang, tapi pastinya kebebasan itu nggak dateng begitu saja. Kayak kata orang-orang; with great power, comes great responsibility, hal yang sama agaknya berlaku juga buat kebebasan mahasiswa, hari-hari kuliahku ‘dikawal’ oleh rasa tanggung jawab kepada kedua orangtuaku. Donatur utama yang membiayai setiap jam yang kulewati dalam kelas di bangku kuliah, Nilai-nilai yang kudapat saat kuliah berpengaruh pada tiap sen rupiah yang harus dibayarkan orangtuaku. Semakin bagus Indeks Prestasi ku, semakin sedikit pulalah biaya yang harus dibayarkan orangtuaku. Mungkin hal ini yang membuatku enggan mengambil peran dalam kegiatan organisasi mahasiswa di FH Unpar.
Pluralitas begitu kentara dalam pergaulan di kampusku, ada beraneka macam etnis dan religiusitas yang berbaur menjadi satu. Meski berlabel ‘universitas Katolik’ nyatanya agama nggak menjadi sesuatu yang dipersoalkan. Puji Tuhan, aku yang Katolik ini berkesempatan mendapatkan banyak teman dan sahabat, baik yang seiman maupun tidak. Ini juga salah satu alasan aku merasa cukup. Cukup apa? Cukup merasa sebagai mahasiswa. Belajar di kelas, mengenal teman-teman, tanpa ada minat untuk bergabung dalam organisasi kemahasiswaan, khususnya Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (HMPSIH). Buat saya, menjadi mahasiswa yang ‘kupu-kupu’ alias kuliah-pulang, kuliah-pulang itu sudah cukup. Yes it is, it was...
Tuhan rupanya punya jalan cerita lain, saat aku menginjak semester tujuh, seorang teman mengajakku bergabung dalam kepengurusan HMPSIH, aku sempat ragu, tak terbiasa dengan organisasi kampus –meski di luar kampus, aku bergabung dalam lebih dari satu organisasi- sampai akhirnya kedua orangtuaku memberikan ‘restu’ mereka. Tak pernah terpikir olehku, pengalamanku di HMPSIH kelak akan membawaku menyadari makna sebuah pelayanan. Hari-hari berlalu cepat, berbulan-bulan aku berkecimpung dalam salah satu divisi HMPSIH, aku merasa semua yang kulakukan adalah sebuah bentuk tanggungjawab, pada Fakultas, pada teman yang mengajakku, dan pada rekan-rekan sesama pengurus. Tanggungjawab, ya, tidak kutemukan alasan yang lebih tepat dari tanggungjawab..
Sampai akhirnya aku dan teman-teman pengurus lainnya mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) di Villa Istana Bunga, Lembang. Mulanya, aku merasa kegiatan ini hanya formalitas semata, tanggungjawab yang harus kujalani sebagai pengurus Himpunan. Namun ada pertanyaan yang dilontarkan seorang pembicara LDK yang mengena di hatiku; “Untuk apa kita semua ada di sini? Untuk apa kita menjadi pengurus himpunan?” Semua pengurus terhenyak, nggak ada yang bisa menjawab secara pasti pertanyaan itu. Kami masing-masing merenungkan ‘arti kehadran’ kami sebagai pengurus HMPSIH dalam hati. Di saat itu pula aku mulai mempertanyakan perasaan ‘cukup’ yang kurasakan sebelum bergabung dalam organisasi, mempertanyakan tanggungjawab yang selalu menjadi faktor utama alasanku menjadi pengurus HMPSIH. Apa perananku sebagai mahasiswa itu cukup? Apa tanggungjawab adalah satu-satunya alasanku untuk berada di sini?
Hari kedua LDK pengurus HMPSIH, di suatu tengah malam yang amat sangat dingin banget di Lembang, aku dan teman-teman dikejutkan oleh ‘acara’ yang amat di luar dugaan. Kalau sesuai rundown acara, maka hari Minggu malam akan kami isi dengan menampilkan kreativitas masing-masing divisi sembari menghangatkan diri di sekeliling api unggun. Namun siapa sangka acara yang penuh tawa itu akan berubah penuh haru.
Ketua himpunan kami, Visensius Manuela, meminta semua pengurus yang hadir untuk berkumpul dan duduk bersama, sementara ia bersama beberapa teman-teman pengurus inti mempersiapkan kursi yang ditempatkan berjejer, dan berbotol-botol besar air mineral. Setidaknya, aku sendiri saat itu nggak punya bayangan akan apa yang akan terjadi setelahnya. Aku hanya terbengong-bengong dan terdiam, sampai Sius –begitu ketua himpunan kami biasa disapa- akhirnya berbicara, aku masih ingat betul apa yang dia bilang; “Kita mungkin nggak bisa melakukan segala sesuatunya dengan sempurna, tapi melakukan sesuatu dengan sepenuh hati itu jauh lebih baik daripada nggak melakukan apa-apa samasekali.”, aku tertegun. Dan seolah itu belum cukup, Sius berbicara lagi, “Buat saya yang seorang Kristiani, Yesus adalah pemimpin besar, Ia tokoh yang begitu berpengaruh. Namun bahkan dengan kepemimpinan-Nya dan kuasa-Nya, Yesus butuh bantuan dua belas rasul buat menyempurnakan karya besar-Nya. Ini bukan soal agama, saya yang hari ini berdiri di depan temen-temen semua, udah dipilih jadi pemimpin, dan saya pun nggak akan bisa begini tanpa dukungan temen-temen. Untuk itu, silakan temen-temen dari masing-masing divisi, maju dan duduk di kursi-kursi ini. Sebelum saya berkomitmen buat memimpin, saya akan terlebih dahulu melayani kalian”
Dan saat itulah aku merasakan yang kini kusebut “Kamis Putih di Hari Minggu”, di penghujung malam itu, ketua himpunan kami melepaskan sepatu kami dengan tangannya dan membasuh kaki kami dengan air, dan dengan tangannya sendiri, Sius membasuh kaki kami. Aku terkaget, shock, nggak mampu berkata-kata, otakku otomatis menangkap ‘adegan’ yang terjadi di depan mataku sebagai apa yang biasa ku lihat pada hari Kamis Putih. Yesus membasuh kaki para murid –Nya, sebagai tanda pelayanan-Nya kepada dunia.
Aku menemukan jawaban semua pertanyaanku di Minggu dini hari itu, untuk apa aku berada di sini? Apakah tanggung jawab saja cukup sebagai alasan aku ‘bekerja’ di organisasi ini? Ternyata bagiku, pelayanan dan keteladanan adalah jawabannya, nggak nyangka bahwa dalam acara mahasiswa, ternyata tersembunyi filosofi yang sedalam itu. Tanggungjawab saja tidak cukup, Tuhan memanggil aku sebagai pengurus himpunan untuk melayani. Melayani semua rekan-rekanku melalui bidang yang kukuasai di kepengurusan. Ini bukan sekedar tanggungjawab. Ini bukan sekedar ‘cukup’. Karena pelayanan itu nggak kenal kata cukup. (ADP –FH Unpar 2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar