Senin, 02 Desember 2013

Mending Jadi Mahasiswa atau Pengemis?


Mending Jadi Mahasiswa atau Pengemis?
(Sekelumit konflik batin sebagai mahasiswa Katolik)

Aku sih senang-senang saja menjadi mahasiswa jurusan fakultas hukum sekaligus pemeluk iman Katolik, keduanya merupakan identitas yang membanggakan bagiku. Sebagai seorang Katolik, aku dituntut mewartakan kasih dan kebenaran. Sebagai mahasiswa hukum, aku diharuskan mencari dan menegakkan kebenaran. Hmm, keduanya terlihat keren dan sejalan. Ditambah lagi sebagai mahasiswa hukum di universitas Katolik, aku harus dapat melakukan keduanya. Karena ‘sejalan’ nya apa yang aku pelajari di bangku kuliah dan yang aku imani dalam Gereja, aku merasa yakin akan apa yang kelak akan nanti aku lakukan, Toh dua-duanya bertujuan baik, pikirku.
‘Tantangan’ sesungguhnya terjadi saat sebuah isu merebak di kalangan akademisi di kampusku, Sebuah fenomena di mana pemerintah daerah mengeluarkan Peraturan Daerah yang melarang pemberian uang kepada pengemis. Awalnya aku masih belum dapat mencerna maksud dari peraturan ini. Bahkan meski peraturan ini gaungnya sudah terdengar sebelum aku menjadi mahasiswa, tetap saja aku nggak memahami jalan pikiran si pembuat peraturan. Bagaimana memberi pada yang membutuhkan dapat dianggap sebagai pelanggaran hukum? Namun rupanya perkara ini nggak sesederhana itu, ada alasan tersendiri tentang kenapa peraturan ini dirilis. Konon pengemis-pengemis yang menadahkan tangannya demi kepingan-kepingan rupiah itu dapat menghasilkan ratusan ribu rupiah per harinya semata-mata dari hasil mengemis. Wow banget...
Rupanya tujuan moral dan filosofis dari peraturan ini adalah ‘mendidik’ para pengemis agar mau bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Selama ini ternyata banyak pengemis di kota besar yang sudah terlalu ‘nyaman’ dengan ‘profesi’ mereka. Uang dapat mereka peroleh dengan menunggu belas kasihan orang di tepi jalan, dan nyaris tanpa melakukan apa-apa. Pernyataan unik dan berseloroh sesekali terlontar dari dosen atau teman kampusku “Kalo mikir duit, mending jadi pengemis daripada mahasiswa”.
Ini yang membuatku bingung, dalam Injil, Yesus sendiri mengajarkan untuk memberi dengan tulus dan ikhlas tanpa embel-embel. Kalau ketika kita hendak memberi, selalu muncul kebimbangan di hati dan keraguan entah akan memberi atau tidak, lantas kapan kita akan memberi? Haruskah kita menaati peraturan ‘kaisar’ yang baik ini dan berhenti memberi? Atau akankah kita mengabaikan peraturan ini dan tetap memberi seperti kita baca dalam Injil?
Keduanya tujuannya sama-sama baik dan bermanfaat, aku bingung dan sempat galau sendiri. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya pada seorang ‘partner’ brainstorming di gereja, Rm Wilfred Haripahlwan a.ka Romo Willy. Menurut beliau sih, memberi atau tidaknya kita itu tidak ditentukan oleh untuk apa uang pemberian kita nanti Apapun pemberiannya. Memberi kepingan rupiah pada pengemis memang takkan membuat kita miskin, namun Rm. Willy berujar bahwa kegiatan memberi juga butuh peranan hati. Saat hati tulus tergerak untuk memberi, jangan ragu. Namun ada saatnya kita memiliki pertimbangan untuk tidak memberi, karena melihat usaha si peminta-minta. Jangan paksa diri untuk memberi. Kegiatan memberi harus didasari ketulusan. Bila kita ingin membantu sesama, cukuplah motivasinya berhenti di sana, jangan diteruskan ke yang lain-lain. Akhirnya aku memutuskan, dalam situasi ‘terjepit’ ini aku harus bertindak dengan hati dan akal sehat, ada kalanya aku harus mempertimbangkan Peraturan Daerah, namun ada saatnya aku harus memberi tanpa ragu-ragu. At last, mending jadi mahasiswa atau pengemis? Jawabanku; mahasiswa yang tahu kapan harus memberi!  (ADP)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar